Kopi Indonesia yang “Manis” di tengah “Pahitnya” Pandemi Covid-19

0
kopi

Indonesia adalah surga bagi tanaman tropis, sesuai dengan salah satu pepatah leluhur “Gemah Ripah Loh Jinawi” yang artinya betapa kaya alam kita, alam Indonesia. Salah satu kekayaan alam Indonesia adalah Kopi, dengan aroma dan rasa yang berbeda dari Negara lain, kopi Indonesia mewarisi rasa yang unik dan tidak dimiliki oleh Negara manapun. Sebut saja, Kopi Sidikalang yang terkenal dengan rasa yang kuat dan harum yang khas atau kopi papua yang memiliki rasa buah yang sngat unik dan aroma yang lembut. Berdasarkan data yang dikutip dari International Coffee Organization (ICO), Indonesia adalah salah satu pengekspor kopi terbesar di dunia. Namun, dengan kondisi Pandemic Covid-19 saat ini, bagaimana kelangsungan bisnis ekspor kopi di Indonesia?


Sebelum pandemi, perkembangan industri kopi di tanah air didorong oleh beberapa faktor seperti pertumbuhan kelas menengah, perubahan gaya hidup masyarakat dan apresiasi masyarakat Indonesia terhadap kopi lokal, sehingga konsumsi di dalam negeri meningkat cukup tinggi. “Industri pengolahan kopi kemarin tumbuh cukup bagus, dengan adanya banyak kafe. Mudah-mudahan dengan adanya ekspor kopi olahan, bisa menggerakkan ekonomi lagi

Namun, ada secercah harapan untuk sektor komoditas Biji yang terkadang disebut Mutiara hitam ini, Menurut Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Abdul Rochim menyatakan, kinerja ini menunjukkan kondisi industri pengolahan kopi Indonesia semakin berdaya saing, meskipun di tengah tekanan dampak pandemi Covid-19, Indonesia melakukan ekspor produk olahan kopi sebanyak 4,82 ton ke China. Ini dilakukan oleh PT UCC Victo Oro Prima, perusahaan roastery kopi berstandar internasional yang mengembangkan biji kopi lokal dan mancanegara. Produk kopi yang diekspor berupa roasted coffee beans dengan tiga varian kopi, yakni Kintamani Blend, Java Blend, dan Toraja Blend. Pelepasan kontainer ekspor pun telah dilakukan di Kawasan Industri Bogorindo, Sentul, Jawa Barat, pada hari ini, Selasa (18/8/2020).


Semangat dunia usaha yang menjalankan kegiatan manufakturnya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat sangat membantu perputaran roda perekonomian nasional di masa yang cukup berat saat ini,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (18/8/2020). Menurutnya, selain menghasilkan devisa, ekspor produk kopi olahan Indonesia juga bisa menjadi parameter eksistensi produk kopi olahan nasional di pasar internasional. Oleh sebab itu, ia mengapresiasinya kinerja UCC Victo Oro Prima yang mampu meningkatkan pengapalan produk kopi ke pasar mancanegara. Hal ini diharapkan dapat memotivasi perusahan kopi olahan lainnya untuk lebih gencar memasarkan produknya ke pasar dalam maupun luar negeri. “Ekspor dalam masa pandemi Covid-19 ini, kami rasa bisa memotivasi kita semua, mulai dari pihak pemerintah hingga dunia usaha, bahwa peluang masih ada, sehingga kalau bisa semangat ini terus kita gerakkan,” imbuhnya. Ia mengatakan, industri pengolahan kopi nasional tidak hanya menjadi pemain utama di pasar domestik, tetapi juga dikenal sebagai pemain global. Ini tercermin dari kinerja ekspor produk kopi olahan yang terus meningkat. Pada tahun 2019, ekspor produk kopi olahan memberikan sumbangan

Pada tahun 2019, ekspor produk kopi olahan memberikan sumbangan pemasukan devisa sebesar 610,89 juta dollar AS, atau meningkat sekitar 5,33 persen dibandingkan tahun 2018. Capaian positif tersebut tak lepas dari potensi Indonesia sebagai negara penghasil biji kopi terbesar keempat di dunia, setelah Brasil, Vietnam dan Kolombia. Produksi rata-rata Indonesia sekitar 773 ribu ton per tahun atau 8 persen dari produksi kopi dunia. Saat ini, ekspor produk kopi olahan didominasi produk kopi olahan berbasis kopi instan, ekstrak, esens dan konsentrat kopi yang tersebar ke sejumlah negara tujuan utamanya seperti di kawasan ASEAN, China, dan Uni Emirat Arab,” kata Rochim. Ia memastikan, Kemenperin akan terus aktif mendorong pengembangan sektor industrinya melalui penerapan berbagai kebijakan strategis, untuk meningkatkan daya saing produk kopi olahan Indonesia , Misalnya, berupaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia seperti barista, roaster, dan penguji cita rasa (cupper). Kemudian, peningkatan nilai tambah biji kopi di dalam negeri, dan peningkatan mutu kopi olahan utamanya kopi sangrai (roasted bean) melalui penguasaan teknologi roasting, pengembangan standar produk (SNI) dan standar kompetensi kerja (SKKNI). Rochim optimistis, Indonesia akan terus menjadi eksportir utama produk kopi olahan karena didukung pula dengan maraknya gaya hidup minum kopi di dunia. Di samping, konsumsi kopi di dalam negeri juga trennya meningkat.,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat